MAKALAH
MASA
DEPAN PERKEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM DI INDONESIA
(makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Dakwah 2)
Dosen
Pengampu:
Muhamad Bisri Mustofa,M.Kom.I
Kelas
/ Semester: KPI D/ II
Disusun
Oleh:
1.
Fahri
Ardiansyah (1741010145)
2.
Fatimahtu Zahro (1741010146)
3.
Friska Rahma Andani (1741010151)
4.
Ghina
May Sandi (1741010150)
KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN
INTAN LAMPUNG
TAHUN 2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia
adalah bangsa yang majemuk, terkenal dengan keanekaragaman dan keunikannya.
Kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan kebudayaan yang
majemuk dan sangat kaya ragamnya. Perbedaan yang terjadi dalam kebudayaan
Indonesia dikarekan proses pertumbuhan yang berbeda dan pengaruh dari budaya
lain yang ikut bercampur di dalamnya. Di setiap budaya tersebut terdapat
nilai-nilai sosial dan seni yang tinggi. Seiring dengan masuknya era
globalisasi saat ini, turut mengiringi budaya-budaya asing yang masuk ke
Indonesia.
Negara
Indonesia mempunyai norma-norma yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya. Setiap
butir norma memiliki peranan masing-masing dalam mengatur hidup manusia. Norma
merupakan suatu ketetapan yang ditetapkan oleh manusia dan wajib dipatuhi oleh
masyarakat
Pada kondisi saat ini, kebudayaan mulai ditinggalkan bahkan sebagian masyarakat Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Hal ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman budaya Indonesia secara perlahan-lahan, yang tidak terlepas dari pengaruh budaya.
Pada kondisi saat ini, kebudayaan mulai ditinggalkan bahkan sebagian masyarakat Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Hal ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman budaya Indonesia secara perlahan-lahan, yang tidak terlepas dari pengaruh budaya.
Generasi
muda termasuk mahasiswa di dalamnya, baik disadari atau tidak memegang amanah
dalam menjaga kelestarian keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia.
Dalam menjaga kelestarian budaya Indonesia tersebut banyak cara yang dapat
dilakukan sesuai dengan kemampuan dan batasan-batasan yang ada.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan topik makalah yang telah kami pilih, ada
beberapa rumusan masalah yang akan kami bahas. Rumusan masalah tersebut adalah:
-
Bagaimana perkembangan masyarakat sosial budaya Indonesia?
-
Bagaimana perkembangan budaya masyarakat Indonesia?
-
Apa saja unsur-unsur kebudayaan?
-
Bagaimana proses perkembangan kebudayaan masyarakat di Indonesia?
-
Apa saja problematika kebudayaan?
-
Bagaimana dampak perkembangan
kebudayaan di Indonesia?
C. Tujuan
Adapun tujuan membuat makalah ini
adalah:
-
Mengetahui bagaimana perkembangan sosial budaya Indonesia
-
Mengenali perkembangan budaya Indonesia
-
Mengetahui unsur-unsur kebudayaan
-
Mengetahui perkembangan kebudayaan di Indonesia
-
Memahami problematika kebudayaan
-
Mengetahui dampak perkembangan kebudayaan di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Masyarakat Sosial Budaya Indonesia
Posisi Indonesia terletak di persimpangan dua Samudra
(Hindia dan Pasifik) dan dua Benua (Asia dan Australia), yang sejak dahulu
merupakan daerah perlintasan dan pertemuan berbagai macam agama dan ideologi
serta kebudayaan.
Dalam kondisi yang demikian, maka terdapat 5 lapisan
perkembangan sosial budaya Indonesia:
1.
Lapisan sosial budaya lama dan asli,
yang memperlihatkan persamaan yang mendasar (bahasa, budaya, dan adat) di
samping perbedaan-perbedaan dari daerah kedaerah. Persatuan dan kesatuan yang
bersumber kepada lapisan ini tidak di tiadakan oleh datangnya agama dan
nilai-nilai baru.
2.
Lapisan keagamaan dan kebudayaan
yang berasal dari India, wilaya Indonesia merupakan pusat pengembangan
peradaban Hindia di pulau Jawa, namun kesadaran akan kebersamaan tetap
dijunjung tinggi (Bhinneka Tunggal Ika).
3.
Lapisan yang datang dengan agama
Islam tersebar luas di Wilayah Indonesia yang sekaligus juga memberikan corak
tata kemasyarakatan, sebagaimana halnya agama Budha dan Hindu yang telah
memberi warna pada tatanan masyarakat dan struktur ketata Negaraan.
4.
Lapisan yang datang dari Barat
bersama dengan agama Kristen melengkapi kehidupan umat beragama di Indonesia di
tengah tengah pengaruh dominasi asing yang silih berganti dari kerajaan
kerajaan Spanyol, Portugis, Belanda, dan Inggris.
5.
Lapisan kebudayaan Indonesia yang
dimualai kesadaran bangsa. Munculnya rasa nasionalisme yang tinggi terhadap
kekuasaan asing telah memberikan inspirasi dan tekad untuk mendorong lahirnya
gerakan Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908, kemudian disusul dengan pemantapan
Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.[1]
Sejak periode perkembangan Nasional, semakin dirasakannya
perkembangan perceturan ideologi yang pada garis besarnya terbagi atas 3
kategori yaitu:
1.
Ideologi yang menitikberatkan pada
nilai-nilai agama
2.
Ideologi yang menitikberatkan pada
sosialisme
3.
Ideologi yang menitikberatkan pada
nasionalisme.
Dalam negara Republik Indinesia yang diproklamasikan pada
tanggal 17 Agustus 1945 itu, nilai-nilai luhur yang merupakan kepribadian yang
merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa inilah yang kemudian menjadi
ideologi dan dasar negara yang di kenal sebagai pancasila, yang akhirnya di
tuangkan dalam pembukaan UUD 1945. Dengan demikian, pertumbuhan dan
perkembangan sosial budaya di Indonesia pada hakikatnya bersumber pada
nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam falsafah dan dasar negara pancasila.
Setelah kemerdekaan, salah satu hal penting yang menyangkut
konsepsi nusantara dan yang berkembang menjadi wawasan nusantara ialah
Deklarasi 13 Desember 1957 tentang wilayah perairan Indonesia (Mochtar Kusumaatmadja,
1993).
“Bahwa
segala perairan di sekitar, diantara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau
bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Republik Indonesia, dengan
tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada
wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian
dari pada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah
kedaulatan mutlak daripada negara Republik Indonesia. Lalu lintas yang damai di
perairan pedalaman ini bagi kapal asing terjamin selama dan sekedar tidak
bertentangan dengan kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Penentuan
batas laut teritorial yang lebarnya 12 mil yang di ukur dari garis-garis yang
menghubungkan titik-titik yang terluar daripada pulau-pulau negara Republik
Indonesia akan di tentukan dengan UDD”.
Ada beberapa pertimbangan yang mendorong pemerintah
mengeluarkan pernyataan wilayah perairan Indonesia adalah sebagai berikut:
1.
Bentuk geografi RI sebagai suatu
negara kepulauan memiliki sifat dan corak tersendiri yang memerlukan pengaturan
sendiri pula
2.
Bagi kesatuan wilayah RI, semua
kepulauan dan laut harus dianggap sebagai suatu kesatuan yang bulat
3.
Penetapan batas laut teritorial
(1939) tidak sesuai lagi dengan kepentingan keslamatan dan keamanan Negara RI
4.
Setiap negara yang berdaulat berhak
dan berkewajiban untuk mengambil tindakan yang di pandangnya perlu untuk
melindungi keutuhan dan keselamatan negaranya.[2]
B. Perkembangan Kebudayaan Masyarakat Indonesia
Kebudayaan dan masyarakat adalah ibarat dua sisi mata uang,
satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan berasal dari kata sansekerta
buddhaya yang merupakan bentuk jamak dari kata “buddhi” yang berarti budi
akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang
bersangkutan dengan budi atau akal.
Di samping kebudayaan ada kata kultur yang berasal dari
bahasa Inggris culture. Culture berasal dari kata latin yaitu “colere” yang
diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan merubah
alam. Selain kebudayaan ada kata “peradaban” para ahli sosioligi membedakan
antara kebudayaan dan peradaban. Peradaban dipakai untuk technical skill
(keterampilan teknik) seperti kemampuan membangun bendungan, pembuatan
gedung-gedung bertingkat, kapal-kapal laut dan pesawat-pesawat terbang.
Berhubung dengan masalah kebudayaan maka kita membedakan
seorang yang dapat mengembangkan tekniknya, sehingga dapat membangun
gedung-gedung bertingkat, mesin raksasa, robot, komputer dan sebagainya. Kebudayaan
yang khusus yang terdapat pada suatu golongan dalam masyarakat, yang berbeda
dengan kebudayaan golongan masyarakat lain maupun kebudayaan seluruh masyarakat
mengenai bagian yang tidak pokok dinamakan kebudayaan khusus.
Di daerah Indonesia yang luas terdapat macam-macam
kebudayaan, yang satu berbeda dari yang lain di sebabkan oleh perjalanan yang
berbeda. Sebagai mana di ketahui, bahwa unsur sejarah yang menentukan
perkembangan kebudayaan Indonesia itu terbagi dalam 5 lapis:
1.
Kebudayaan Indonesia asli
2.
Kebudayaan India
3.
Kebudayaan Islam
4.
Kebudayaan Modern
5.
Kebudayaan Bhineka Tunggal Ika
1. Kebudayaan Indonesia asli
Tentulah kebudayaan Indonesia asli, sebelum kedatangan
kebudayaan India adalah hasil pertumbuhan sejarah yang berbeda-beda di berbagai
pulau dan bagian pulau di Indonesia yang luas ini. Di Indonesia terdapat banyak
bahasa daerah dan dalam hukum adat pun jelas kelihatan perbedaan yang nyata
antara lingkungan hukum adat yang satu dengan yang lain, meskipun banyak
perbedaannya antara penjelmaan kebudayaan yang satu dengan yang lain, ciri diri
hakikat yang sama diantara kebudayaan-kebudayaan itu sedemikian banyak dan
kenyataannya dapat kita menggolongkan sekaliannya pada dasar kebudayaan yang
sama.
Seperti dalam kebudayaan yang bersahaja yang lain
bangsa Indonesia sebelum datang kebudayaan India itu pun dapat dikatakan
mempunyai cara berpikir yang kompleks, yaitu besifat keseluruhan dan emosional,
yaitu amat dikuasai oleh perasaan. Kepercayaan kepada roh-roh dan tenaga-tenaga
yang gaib meresapi seluruh kehidupan, baik kehidupan manusia secara individu,
maupun kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan.
Ekonomi, Hukum, Pemerintahan, dan Kesenian bukanlah
keaktifan manusia yang terpisah pisah, tetapi semuanya itu erat hubungannya,
dimana yang satu mulai dan yang satu berakhir serta semuanya berlaku di bawah
naungan anggapan dan konsep-konsep agama. Demikian juga perkawinan, kelahiran
dan kematian bukanlah kejadian atas diri manusia secara individu, tetapi
seluruh masyarakat berkepentingan kepadanya dan oleh karnanya terikat kepada
aturan masyarakat.
Ciri lain masyarakat Indonesia yang lama ialah berkuasanya
nilai solidaritas. Susunan masyarakat merupakan persekutuan yang kecil yang
hidup dalam desa atau mengembara dalam lingkungan daerah yang tentu.
Persekutuan-persekutuan itu dapat kita bandingkan dengan repoblik demokrasi
yang kecil, kepalanya dipilih oleh orang-orang keturunan cabang suku yang
tertua yang mengatur segala keperluan dan kepentingan masyarakat itu dibantu
oleh mejelis orang-orang yang tua dalam desa. Keputusan-keputusan yang penting
diambil bersama-sama dengan musyawarah.
Salah satu ciri masyarakat Indonesia asli ialah besarnya
pengaruh perhubungan darah. Persekutuan itu terjadi dari satu atau beberapa
suku dan perhubungan di dalam maupun di antara suku-suku itu diatur oleh adat.
Dalam masyarakat dan kebudayaan Indonesia asli terdapat beberapa corak susunan
suku, yang menentukan cara menghitung keturunan, menentukan bentuk perkawinan,
hak atas tanah, soal warisan, dan sebagainya.
Kehidupan ekonomi masyarakat yang kecil tentulah amat
terbatas. Sebagian besar dari keperluan dan bahan-bahan keperluan manusia masih
dapat diambil dengan mudah dari alam yang luas, baik untuk makanan maupun untuk
keperluan yang lain seperti ramuan rumah, alat pembakaran, bermacam-macam
perkakas, dan obat-obatan. Dalam hubungan ini, jelaslah bahwa baik pertanian
maupun peternakan masih sangat terbatas. Orang masih sebagian besar mengambil
saja dari sumber alam, baik air maupun darat yang sangat kaya. Dalam suasana
ini, tiap-tiap keluarga atau suku atau desa itu dalam arti yang luas masih
bersifat autarki.
Kalau kita simpulkan uraian tentang nilai-nilai kebudayaan
Indonesia asli, dapat dikatakan bahwa kebudayaan itu dikuasai oleh nilai agama,
yang ikuti oleh nilai solidaritas (kebersamaan) dan nilai kesenian. Sedangkan
sifatnya dalam demokrasi, nilai kuasa dalam susunan dalam masyarakat adalah
lemah. Nilai ilmu lemah karna pemikiran yang belum berkembang, sedangkan
perasaan masih terlampau berkuasa dalam menghadapi alam. Nilai ekonomi belum
juga berkembang karna kekayaan alam belum timbul. Dalam hubungan ini, teknik
tak dapat tumbuh karena orang masih terlampau terpengaruh oleh kepercayaan
bahwa kecakapan dan kekuasaan yang sesungguhnya terletak pada yang gaib, baik
berupa jiwa maupun berupa tenaga gaib.
2. Kebudayaan India
Pada permulaan kurun masehi bangsa I ndonesia berkenalan dengan
kebudayaan Hindu yang datang dari India itu telah lebih maju dari kebudayaan
Indonesia asli, tetapi pada pokoknya, kebudayaan Hindu itupun bulat bersahaja
dalam arti bahwa dalam kebudayaan itu pun berkuasa agama berdasarkan cara
berfikir, komplek dan emosional.
Dalam kebudayaan Indonesia asli pun susunan pikiran masih
kabur dalam selubung mistis dan adat, di India lambat laun timbul
pribadi-pribadi yang dengan sadar memikirkan dan mengatur dalam susunan
pikirannya tentang roh-roh dan tenaga-tenaga yang gaib, tentang manusia dalam
hubungan alam dan masyarakat, tentang bahasa, tentang bangunan-bangunan dan
sebagainmya.
Dalam ajaran karma dan penitisan atau ingkarnasi kelihatan
bahwa kepercayaan bangsa yang bersahaja kepada pengembaraan roh yang disebut
animisme, dengan sangat berasio dipikirkan sehingga mendapat fungsi etik yang
kuat dalam kehidupan. Mesti diakui, bahwa etik yang berasio dan kuat itu
membantu memecah masyarakat India menjadi suatu hierarki evolusi inkarnasi
berdasarkan kelahiran yang amat kaku, ia tak dapat mengubah nasibnya yang
dibawanya waktu lahirnya. Dilihat dari suatu jurusan etik evolusi inkarnasi itu
menjadi tiang agung timbuknya suatu sistem kasta dan feodalisme, yang amat
kukuh dan kaku, tidak dapat di ganggu gugat. Orang yang lahir pada tingkat
kasta yang tinggi sebagai brahmana atau satria, tak dapat di ganggu gugat dalam
kedudukannya berdasarkan kelahirannya.
Perkembangan rohani dan materi yang terjadi di India
dalam 1000 tahun sebelum masehi yang memberi kedinamisan dalam kehidupan, itu
harus dianggap sebagai dorongan dan sebab orang-orang India datang ke pulauan
Indonesia sehingga kebudayaan India menjadi faktor yang penting dalam
pembentukan kebudayaan Indonesia dan pengaruh itu berjalan lebih dari 1000
tahun lamanya.
Di Indonesia, sesungguhnya pada waktu itulah tumbuh
hukum-hukum yang baru yang terpengaruh oleh hukum-hukum India yang mengatur
soal-soal kerajaan yang besar. Semua itu sejalan dengan timbulnya suatu hirarki
kepegawaian Negara yang menjalankan pemerintah dan memegang hukum puncak dari
dari hirarki itu.
3. Kebudayaan Islam
Pada abad ke 14 masehi, bangsa Indonesia pula berkenalan
dengan budaya baru yaitu, kebudayaan Islam atau kebudayaan Arab Islam. Seperti
kebudayaan Indonesia asli dan hindu, kebudayaan Islam itupun berpusat kepada
kepercayaan kepada tenaga yang gaib (Tuhan), yang dalam kebudayaan (Agama) Islam
dinamakan Allah. Tetapi berbeda dengan animisme dan dinamisme kepercayaan
kebudayaan Indonesia asli dan berbeda dengan hierarki dewa-dewa dan imanentisme
kepercayaan kebudayaan India. Dalam kepercayaan Islam ada suatu jarak antara
manusia, Allah, dan alam.
Dari ayat-ayat Alquran, kitab suci agama Islam, disimpulkan
tentang perhubungaan Allah. Allah yang mah kuasa itu adalah asal dan pencipta
segala sesuatu. Dicipkakannya alam semesta dan diaturnya segala sesuatu menurut
rencana-Nya dan hukum-Nya. Diciptakannya matahari dan bintang-bintang,
diaturnya hujan agar membasahi tanah dan lain-lain. Allah adalah yanng
menciptakan, menumbuhkan, memelihara serta menjaga segala bentuk dan
tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Dalam perkembangan Islam yang cepat sesudah abad pertama
hijrah, dalam waktu yang pendek, kebudayaan Islam berkenalan dengan filsafat
kebudayaan yunani kuno dengan perantaraan terjemahan yang dibuat kedalam bahasa
arab. Dengan demikian, kebudayaan Islam menjadi pewaris filsafat dan ilmu-ilmu
yang bukan hanya diulang-ulang saja, tetapi terus ditumbuhkan dengan pemikiran
dan penyelidikan yang bebas, yang dilakukan oleh pemeluk agama Islam maupun
oleh pemeluk agama Kristen dan Yahudi yang hidup dalam suasana kebebasan
kebudayaan Arab-Islam.
4. Kebudayaan modern
Kebudayaan modern ini dapat juga disebut kebudayaan
modern Eropa Amerika dan haruslah kita anggap bermula pada zaman Renaissance.
Ini terletak pada zaman yunani yang kira-kira lima abad sebelum masehi
melepaskan diri mereka dari suasana kebudayaan ekspresif yang dikuasai oleh
mitos agama dan mulai berpikir dengan bebas tentang alam semesta dengan
penyelidikannya secara teratur berdasarkan tenaga pikiran dan pancaindera.
Kebudayaan Yunani ini tersebar, baik ke arah Asia maupun ke arah Eropa, tetapi
terutama sekali di sekitar Lautan Tengah. Bangsa Romawi dapat dianggap sebagai
pewarisnya yang pertama, tetapi tidaklah banyak benar yang dapat ditambahkan
oleh bangsa Romawi tentang hal filsafat dan kepada warisan kebudayaan Yunani
itu. Sumbangan bangsa Romawi terletak dalam nilai kekuasaan yang berupa
organisasi pemerintah dan pembentukan hukum hal kemiliteran dan teknologi.
Agama Kristen pun sekedarnya menerima pengaruh dari kebudayaan Yunani itu.
Sebagaimana diuraikan terdahulu bagaimana usaha menyatukan
kepercayaan dan konsep-konsep agama Islam dengan warisan Yunani itu, selain
daripada memberikan kemajuan filsafat dan ilmu yang amat sangat tinggi pada
kebudayaan Islam.
Manusia lambat laun bertambah lama bertambah percaya kepada
rasio atau tenaga berpikirnya, serta kesanggupannya untuk mengets an menguasai
alam sekitarnya. Kebenaran agama yang di wahyukan terus menerus akan mendapat
serang dari ahli-ahli pikir, seperti Giordano Bruno, Copernicus, serta Galileo
dan lain-lain dalam abad ke-16 dan ke-17. Dalam abad-abad berikutnya perjuangan
itu di teruskan oleh Linaeus, Darwin, Marx, dan Freud. Dalam abad ke-19
kekuasaan gereja telah amat berkurang sehingga dapatlah Darwin mengumumkan
pikiran-pikirannya dengan tidak membahayakan jiwanya seperti rekan-rekannya
yang lain, justru abad ke-18 hal itu tidak mengherankan lagi, karna antara
Darwin dan Renaissans terdapat zaman Aufklaerung.
Dapat kita simpulakn bahwa citi-ciri terpenting dari pada
Ilmu Modern ialah kekuatan disiplin, cara berpikir dan penyelidikannya yang
menuju pengetahuan positif dan teliti.
5. Kebudayaan Bhinneka Tunggal Ika
Setelah kita mengikuti sejarah
kebudayaan Indonesia dengan perurutan keempat kebudayaan yang berbeda-beda
konfigurasinya, dapatlah kita sekarang memahami kesatuan kebudayaan Indonesia
dengan bermacam-macam penjelmaannya yang biasanya kita sebut Bineka Tunggal
Ika.
C. Unsur-unsur kebudayaan
Kebudayaan dari tiap-tiap bangsa atau masyarakat dapat
dibagi ke dalam suatu jumlah unsur yang tak terbatas jumlahnya. Dari keseluruhan
unsur-unsur yang merupakan suatu kebudayaan yang bulat itu dapat terdiri dari
unsur-unsur besar unsur-unsur kecil.
Sosiologi mengklasifikasi tiap kebudayaan menjadi beberapa
macam unsur. Unsur-unsur pokok atau besar disebut culture universal, hal ini
menunjukkan bahwa unsur-unsur tersebut bersifat universal artinya dijumpai pada
setiap kebudayaan yang ada dipermukaan bumi ini.
Culture universal tersebut dapat dibagi lebih lanjut ke
dalam unsur-unsur yang lebih kecil. Akhirnya sebagai unsur terkecil dari
unsur-unsur kebudayaan yang membentuk trait adalah sistem misalnya bajak
sebagai unsur yang membentuk, trait dibagi kedalam alat-alat atau bagian-bagian
kecil yang dapat dilepaskan, tetapi hakihatnya merupakan satu kesatuan.
Kelompok manusia yang sangat berkembang dari waktu ke waktu
cepat maupun lambat akan mengalami perubahan. Kebutuhan pokok manusia yang
tidak dapat ditinggalkan adalah kebutuhan ekonomi ini dari cara manusia
memenuhi kebutuhan atau perkembangan. Dalam memanfaatkan sumber daya atau
lingkungan manusia tidak melakukan perubahan cara, mulai dari cara menanam
kepada cara bercocok tanam sampai kepada pertanian dan peternakan dan akhirnya
sampai mencapai tingkat industri modern.
Perubahan cara memenuhi kebutuhan tadi atau secara lebih sempit
lagi perubahan proses produksi sudah pasti diikuti oleh perubahan-perubahan
lainnya. Ke dalam perubahan-perubahan tadi termasuk perubahan struktur,
perubahan nilai dan norma atau kaidah-kaidah. Kalau perubahan dalam masyarakat
telah meliputi aspek-aspek struktur, nilai dan norma atau kaidah,
lembaga-lembaga industri dan telah didukung oleh sebagian besar anggota
masyarakat, maka pada masyarakat itu telah terjadi perubahan atau perkembangan
kebudayaan. Perubahan atau perkembangan kebudayaan itu terjadi karena adanya
faktor dari dalam dan dari luar.
1. Faktor dari dalam
Perkembangan akal budi dan daya kreasi anggota masyarakat
dapat membawa perubahan dalam masyarakat itu. Rekaan dan penemuan yang terjadi
dalam masyarakat baik yang berupa kebudayaan kebendaan, maupun yang berupa
kebudayaan spiritual, dapat membawa perubahan pandangan dan penilaian terhadap
segala yang ada pada masyarakat itu. Perubahan tadi sebelum dapat diterima oleh
anggota-anggota masyarakat, harus melaluai proses yang panjang dan lama. Cepat
lambatnya perkembangan dipengaruhi oleh sifat-sifat tradisional, konservatif,
progresif, reaktif, aktif dan kematangan masyarakat yang bersangkutan.
2. Faktor dari luar
Perkembangan kebudayaan tidak hanya didorong oleh faktor
yang berasal dari dalam. Karena kalau hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor
tersebut tidak akan berjalan dengan cepat sesuai tuntutan zaman.
Hal ini dapat dibuktikan pada masyarakat yang masih
tertutup, perubahan relatif kecil bila dibandingkan dengan perubahan pada masyarakat
tang telah terbuka terhaap pengaruh luar. Oleh karna itu faktor-faktor yang
berasal dari luar perlu mendapat perhatian pula. Faktor dari luar seperti:
Akulturasi, Asimilasi dan Difusi
Bagian inti dari kebudayaan adalah nilai-nilai dan
kosep-konsep dasar yang memberikan arah kepada berbagai tindakan, baik yang
dapat, layak, atau harus dilakukan oleh warga suatu masyarakat yang memiliki
kebudayaan tersebut, maupun yang layak dihindari atau dicegahnya. Bagian inti
kebudayaan inilah yang perlu diinternalisasikan kepada anak didik sepanjang
proses belajarnya. Seorang anak didik memang dibentuk untuk menjadi seorang
yang terampil, berpengetahuan, dan berkemampuan kerja namun ia juga perlu
dijadikan seseorang yang berpribadi utuh, yang hidup hati nuraninya, dan yang
mempunyai kepekaan akan hal-hal yang indah dalam kehidupan ini.
Kebudayaan memberikan sukma kepada pembangunan. Pada jalur
utama pembangunan itu kita kembangkan nilai-nilai budaya nasional yang bersifat
serba menyongsong masa depan: nilai keilmiahan, nilai keterbukaan, dan
demokrasi, nilai persaingan yang sportif untuk mencapai prestasi, nilai
mementingkan perencanaan dan evaluasi dalam setiap pekerjaan, dan nilai-nilai
lain yang searah dengan itu.
Apa yang ada dalam kebudayaan etnik lokal itu pada dasarnya
dapat dipandang sebagai landasan bagi pembentukan jatidiri bangsa serta
nasional. Warisan budaya itulah yang membuat suatu bangsa merasa mempunyai
akar. Disamping itu kesadaran sejarah, yaitu kesadaran akan perjalanan masa
lalunya sebagai suatu rangkaian perjuangan atau eksplorasi untuk mengatasi
masalah masalah sezaman, pun merupakan suatu topangan untuk menegakkan harga
diri bangsa.
Dalam kaitan ini perlu diingat bahwa dari zaman ke zaman
bangsa indonesia mengalami berkali-kali proses akulturasi pada waktu berhadapan
dengan kebudayaan-kebudayaan besar dari luar indonesia.
Masalah yang kita hadapi sebagai bangsa yang tetap
menganggap relevan untuk memiliki jati diri ini adalah bagaimana kita secara
terpadu dapat senantiasa mengadakan pilihan-pilihan yang tepat atas
tawaran–tawaran nilai dari luar negara indonesia itu, yang disampaikan melalui
media informasi yang dari waktu ke waktu berkembang semakin cepat dan semakin
luas jangkauannya.[3]
D. Perkembangan Kebudayaan
Sebagaimana diketahui bahwa kebudayaan adalah hasil cipta,
karsa dan rasa manusia oleh karenanya kebudayaan mengalami perubahan dan
perkembangannya sejalan dengan perkembangan manusia itu. Perkembangan tersebut
dimaksudkan untuk kepentingan manusia sendiri, karena kebudayaan diciptakan
oleh dan untuk manusia.
Perkembangan kebudayaan terhadap dinamika kehidupan
seseorang bersifat kompleks, dan memiliki eksistensi dan berkesinambungan dan
juga menjadi warisan sosial. Seseorang mampu memengaruhi kebudayaan dan
memberikan peluang untuk terjadinya perubahan kebudayaan.
Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok sosial tidak akan
terhindar dari pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain dengan adanya
kontak-kontak antar kelompok atau melalui proses difusi. Suatu kelompok sosial;
akan mengadopsi suatu kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut berguna
untuk mengatasi atau memenuhi tuntutan yang dihadapinya.
Pengadopsian suatu kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh
faktor-faktor lingkungan fisik. Misalnya iklim, topografi sumber daya alam dan
sejenisnya. Sebagai contoh: orang-orang yang hidup di daerah yang kondisi lahan
atau tanahnya subur (produktif) akan mendorong terciptanya suatu kehidupan yang
favourable untuk memproduksi bahan pangan. Jadi, terjadi suatu proses
keserasian juga antara kebudayaan masyarakat yang satu dengan kebudayaan
masyarakat tetangga dekat. Kondisi lingkungan seperti ini memberikan peluang
untuk berkembangnya peradaban (kebudayaan) yang lebih maju. Misalnya, dibangun
sistem irigasi, teknologi pengolahan lahan dan makanan, dan lain sebagainya.
Kebudayaan dari suatu kelompok sosial tidak secara komplet
ditentukan oleh lingkungan fisik saja, namun lingkungan tersebut sekadar
memberikan peluang untuk terbentuknya sebuah kebudayaan. Dari waktu ke waktu,
kebudayaan berkembang seiring dengan majunya teknologi (dalam hal ini adalah
sistem telekomunikasi) yang sangat berperan dalam kehidupan setiap manusia.
Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan
di segala bidang, termasuk dalam hal kebudayaan. Mau tidak mau kebudayaan yang
dianut suatu kelompok sosal akan bergeser. Cepat atau lambat pergeseran ini
akan menimbulkan konflik antara kelompok-kelompok yang menghendaki perubahan
dengan kelompok-kelompok yang tidak menghendaki perubahan.
Hal terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan adalah
dengan adanya kontrol atau kendali terhadap perilaku regular (yang tampak) yang
ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Sehingga mereka dapat memilah-milah,
mana kebudayaan yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.
E. Proses Perkembangan Kebudayaan Masyarakat di Indonesia
Berbicara tentang kebudayaan Indonesia yang ada dibayangan
kita adalah sebuah budaya yang sangat beraneka ragam. Bagaimana tidak,
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, hal inilah yang
menyebabkan Indonesia memiliki kebudayaan yang beraneka ragam. Kebudayaan dapat
didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk
sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan
dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu
kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan
sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada
generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan
menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun
yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan
demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai
kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya,
disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena
lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu bangsa merupakan
keseluruhan hasil cipta, karsa, dan karya manusia. Indonesia sendiri sebagai
Negara kepulauan dikenal dengan keberagaman budayanya, yang mana keanekaragaman
itulah menunjukkan betapa pentingnya aspek kebudayaan bagi suatu Negara. Karena
jelas bahwa kebudayaan adalah suatu identitas dan jati diri bagi suatu bangsa
dan Negara.
Proses perkembangan budaya dapat terjadi melalui penetrasi.
penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan
lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
1. Penetrasi Damai
Merupakan proses masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan
damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia.
Contoh lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan
Arab. Kebudayaan India masuk melalui proses yang damai yaitu melalui penyebaran
agama Hindu dan Buddha di Nusantarayang jauh sebelum Indonesia terbentuk.
Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha
sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya
kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.
Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan
Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara
pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya).
Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau
Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara.
Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan
Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi
salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal
kebudayaan Jawa dan Betawi. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak
mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat.
Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur
asli budaya masyarakat. Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan
Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis.
Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk
kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk
bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli
Indonesia dan kebudayaan India.
Asimilasi adalah bercampurnya dua
kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru.
Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang
berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan
kebudayaan asli.
2. Penetrasi kekerasan (penetration
violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan
cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia
pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan
goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat. Wujud
budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama
350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara
lain pada sistem pemerintahan Indonesia. Secara garis besar kebudayaan
Indonesia dapat kita klasifikasikan dalam dua kelompok besar. Yaitu Kebudayaan
Indonesia Klasik dan Kebudayaan Indonesia Modern. Para ahli kebudayaan telah
mengkaji dengan sangat cermat akan kebudayaan klasik ini. Mereka memulai
dengan pengkajian kebudayaan yang telah ditelurkan oleh kerajaan-kerajaan
di Indonesia. Sebagai layaknya seorang pengkaji yang obyektif, mereka mengkaji
dengan tanpa melihat dimensi-dimensi yang ada dalam kerajaan tersebut. Mereka
mempelajari semua dimensi tanpa ada yang dikesampingkan. Adapun dimensi yang
sering ada adalah seperti agama, tarian, nyanyian, wayang kulit, lukisan,
patung, seni ukir, dan hasil cipta lainnya. Beberapa pengamat mengatakan bahwa
perkembangan kebudayaan Indonesia khususnya kebudayaan modern dimulai sejak
bangsa Indonesia merdeka. Bentuk dari deklarasi ini menjadikan bangsa Indonesia
tidak dalam pengaruh dan tekanan bangsa lain dengan budayanya. Dari sini bangsa
Indonesia mampu menciptakan rasa dan karsa yang lebih sempurna sehingga
mulailah berkembang kebudayaan modern bangsa Indonesia. Dalam perkembangan
kebudayaan bangsa Indonesia ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi
berkembangnya sebuah kebudayaan diantaranya adalah faktor pengaruh budaya dari
luar, apabila budaya asli ini tidak dapat mempertahankan eksistensinya
maka budaya asli yang ada akan tergusur dan tergantikan dengan budaya asing
yang baru tersebut. Pada saat ini kita semua dapat melihat bahwa bangsa
Indonesia dalam situasi yang mengkhawatirkan, karena banyak sekali budaya
asing yang masuk dan tidak tersaring sehingga mempengaruhi kebudayaan asli
bangsa Indonesia. Kondisi sosial budaya Indonesia saat ini adalah sebagai
berikut:
a. Bahasa
Dapat kita ketahui bahwa sampai saat Indonesia masih
konsisten dan tetap berpegang teguh dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
Sedangkan bahasa-bahasa daerah merupakan kekayaan plural yang dimiliki bangsa
Indonesia sejak jaman nenek moyang kita. Bahasa merupakan salah satu unsur
budaya yang terbentuk karena adanya komunikasi antara manusia Indonesia. Bahasa
asing (Inggris, mandarin, dan lan sebagainya) belum terlihat begitu diminati
dalam penggunaan sehari-hari, hanya mungkin pada acara saat seminar, atau
kegiatan ceramah formal diselingi dengan bahasa Inggris sekedar untuk
menyampaikan kepada penonton kalau penceramah mengerti akan bahasa
Inggris.
b. Sistem teknologi
Tidak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan teknologi
menjadi salah satu factor yang mempengaruhi perkembangan kebudayaan Indonesia.
Perkembangan yang sangat terlihat adalah teknologi informatika. Dengan
perkembangan teknologi ini tidak ada lagi batas waktu dan negara pada saat ini,
apapun kejadiannya di satu negara dapat langsung dilihat di negara lain melalui
televisi, internet atau sarana lain dalam bidang informatika. Sehingga,
budaya-budaya luar mampu menyusup kedalam budaya asli Indonesia itu sendiri.
c. Sistem mata pencarian
Hidup masyarakat atau ekonomi masyarakat. Kondisi
perekonomian Indonesia saat ini masih dalam situasi krisis, yang diakibatkan
oleh tidak kuatnya fundamental ekonomi pada era orde baru. Kemajuan
perekonomian pada waktu itu hanya merupakan fatamorgana, karena adanya utang
jangka pendek dari investor asing yang menopang perekonomian Indonesia.
d. Organisasi Sosial.
Bermunculannya organisasi sosial yang berdasarkan pada
agama, contohnya FPI, JI, , Organisasi Aliran Islam/Mahdi), Etnis (FBR, Laskar
Melayu) dan Ras.
e. Sistem Pengetahuan.
Dengan adanya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
diharapkan perkembangan pengetahuan Indonesia akan terus berkembang
sejalan dengan era globalisasi.
f. Kesenian.
Dominasi kesenian saat ini adalah seni suara dan seni akting
(film, sinetron). Seni tari yang dulu hampir setiap hari dapat kita saksikan
sekarang sudah mulai pudar, apalagi seni yang berbau kedaerahan. Kejayaan
kembali wayang kulit pada tahun 1995-1996 yang dapat kita nikmati setiap malam
minggu, sekarang sudah tidak ada lagi. Seni lawak model Srimulat sudah tergeser
dengan model Overa Van Java, Pesbuker, dan lain-lain. Untuk kesenian nampaknya
paling dinamis perkembangannya. Namun akibat perkembangan budaya yang sangat
pesat menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang mulai melupakan kesenian
asli bangsa Indonesia dan akhirnya banyak kesenian Indonesia yang diakui oleh
pihak lain.
g. Sedang menghadapi suatu
pergeseran-pergeseran budaya.
Hal ini mungkin dapat dipahami mengingat derasnya arus
globalisasi yang membawa berbagai budaya baru serta ketidakmampuan kita dalam
membendung serangan itu dan mempertahankan budaya dasar kita.
F. Problematika Kebudayaan
Beberapa
problematika kebudayaan antara lain:
1.
Hambatan budaya yang berkaitan
dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan. Keterkaitan orang Jawa terhadap
tanah yang mereka tempati secara turun-temurun diyakini sebagai pemberi berkah
kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung halaman atau beralih pola hidup
sebagai petani. Padahal hidup mereka umumnya miskin.
2.
Hambatan budaya yang berkaitan
dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang hambatan terhadap budaya yang
berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang ini dapat terjadi antara
masyarakat dan pelaksana pembangunan. Contohnya, program Keluarga Berencana
atau KB semula ditolak masyarakat, mereka beranggapan bahwa banyak anak banyak
rezeki.
3.
Hambatan budaya berkaitan dengan
faktor psikologi atau kejiwaan. Upaya untuk mentransmigrasikan penduduk dari
daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan
karena adanya kekhawatiran penduduk bahwa di tempat yang baru hidup mereka akan
lebih sengsara dibandingkan dengan hidup mereka di tempat yang lama.
4.
Masyarakat yang terasing dan kurang
komunikasi dengan masyarakat luar. Masyarakat daerah-daerah terpencil yang
kurang komunikasi dengan masyarakat luar, karena pengetahuannya serba terbatas,
seolah-olah tertutup untuk menerima program-program pembangunan.
5.
Sikap tradisionalisme yang
berprasangka buruk terhadap hal-hal baru. Sikap ini sangat mengagung-agungkan
budaya budaya tradisonal sedemikian rupa, yang menganggap hal-hal baru itu akan
merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.
6.
Sikap Etnosentrisme. Sikap
etnosentrisme adalah sikap yang mengagungkan budaya suku bangsanya sendiri dan
menganggap rendah budaya suku bangsa lain. Sikap semacam ini akan mudah memicu
timbulnya kasus-kasus sara, yakni pertentangan suku, agama, ras, dan antar
golongan.
Perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan, sering
kali disalahgunakan oleh manusia, sebagai contoh nuklir dan bom dibuat justru
untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestrarikan suatu generasi,
obat-obatan diciptakan untuk kesehatan tetapi dalam penggunaannya banyak
disalahgunakan yang justru mengganggu kesehatan manusia.
G. Dampak Perkembangan Kebudayaan di
Indonesia
Ada beberapa dampak yang didapatkan dari perkembangan kebudayaan
yang ada di Indonesia, yaitu:
1. Dampak positif
a.
Peningkatan dalam bidang sistem
teknologi, Ilmu Pengetahuan, dan ekonomi.
b.
Terjadinya pergeseran struktur
kekuasaan dari otokrasi menjadi oligarki.
c.
Mempercepat terwujudnya pemerintahan
yang demokratis dan masyarakat madani dalam skala global.
d.
Tidak mengurangi ruang gerak
pemerintah dalam kebijakan ekonomi guna mendukung pertumbuhan ekonomi jangka
panjang.
e.
Tidak berseberangan dengan
desentralisasi.
f.
Bukan penyebab krisis ekonomi.
Contoh
:
Mudah memperoleh informasi ataupun ilmu pengetahuan, Anda
akan dengan mudah mendapatkan informasi melalui media elektronik (internet).
Hanya dengan mengetikan apa yang akan anda cari dan hanya beberapa detik, file
yang anda cari akan keluar.
Mudah melakukan komunikasi, di jaman modern ini sangatlah
mudah untuk anda melakukan komunikasi. Bukan hanya berkomunikasi dengan orang
yang berada dekat dengan anda, namun dengan mudahnya anda dapat berkomunikasi
dengan orang yang jaraknya jauh. Banyak orang akan memilih jejaring sosial
untuk berkomunikasi (facebook, twitter, yahoo, skype, dsb) dikarenakan lebih
mudah, dan juga tidak berbayar. Bayangkan dengan orang orang di era tahun 2000
kebawah, mereka harus menulis surat, berjalan jauh untuk mencari kantor pos
terdekat, mengirim, dan menunggu lama surat balasan. Kalaupun ada handphone,
mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli pulsa dan
handphone.
2. Dampak Negatif
a.
Menimbulkan perubahan dalam gaya
hidup, yang mengarah kepada masyarakat yang konsumtif komersial.
b.
Terjadinya kesenjangan budaya.
Dengan munculnya dua kecenderungan yang kontradiktif. Kelompok yang
mempertahankan tradisi dan sejarah sebagai sesuatu yang sakral dan penting
(romantisme tradisi). Dan kelompok ke dua, yang melihat tradisi sebagai produk
masa lalu yang hanya layak disimpan dalam etalase sejarah untuk dikenang
(dekonstruksi tradisi/disconecting of culture).
c.
Sebagai sarana kompetisi yang
menghancurkan. Proses globalisasi tidak hanya memperlemah posisi negara
melainkan juga akan mengakibatkan kompetisi yang saling menghancurkan.
d.
Sebagai pembunuh pekerjaan. Sebagai
akibat kemajuan teknologi dan pengurangan biaya per unit produksi, maka output
mengalami peningkatan drastis sedangkan jumlah pekerjaan berkurang secara
tajam.
e.
Sebagai imperialisme budaya. Proses
globalisasi membawa serta budaya barat, serta kecenderungan melecehkan
nilai-nilai budaya tradisional.
f.
Globalisasi merupakan kompor bagi
munculnya gerakan-gerakan neo-nasionalis dan fundamentalis. Proses globalisasi
yang ganas telah melahirkan sedikit pemenang dan banyak pecundang, baik pada
level individu, perusahaan maupun negara. Negara-negara yang harga dirinya
diinjak-injak oleh negara-negara adi kuasa maka proses globalisasi yang
merugikan ini merupakan atmosfer yang subur bagi tumbuhnya gerakan-gerakan
populisme, nasionalisme dan fundamentalisme.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Pada dasarnya Proses Perkembangan Masyarakat Kebudayaan di Indonesia melalui dua
cara, yaitu: penetrasi damai dan penetrasi kekerasan.
Penetrasi damai Merupakan proses
masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya,masuknya pengaruh
kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia.
Penetrasi kekerasan, masuknya sebuah
kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan
Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga
menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.
Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang
menjajah selama 350 tahun lamanya.
Selanjutnya ada beberapa dampak yang
didapatkan dari perkembangan kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu:
Dampak Positif, salah satunya adalah
Peningkatan dalam bidang sistem teknologi, Ilmu Pengetahuan, dan ekonomi.
Dampak Negatif, menimbulkan
perubahan dalam gaya hidup, yang mengarah kepada masyarakat yang konsumtif
komersial.
- Saran
Kebudayaan bangsa Indonesia
merupakan kebudayaan yang terbentuk dari berbagai macam kebudayaan suku dan
agama sehingga banyak tantangan yang selalu menyongsong keutuhan budaya itu
tapi dengan semangat kebhinekaan sampai sekarang masih eksis dalam terpaan
zaman. Kewajiban kita sebagai anak bangsa untuk tetap mempertahankannya budaya
itu menuju bangsa yang abadi, luhur, makmur dan bermartabat.
DAFTAR PUSTAKA
H.
Hartono, Drs. & Dra.Arnicun Aziz, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008)
Sedyawati
Edi, Ke Indonesiaan Dalam Budaya, (Jakarta: Penerbit Wedatama Widya
Sastra, 2007)
Setiadi
Elly M, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana, 2008)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar